Minggu, 20 Desember 2015

Gathering Satu, Satu Dekade




Kepengurusan baru KOMPAS Outdoor Activity and Environmental Studies periode 2015/2016 mengadakan Gathering pertama dengan calon angkatan ke – 10 yang lolos screening pada tanggal 19 Desember 2015, pukul 09.00-12.00 di gedung prof. Yogi Sugito, FISIP, Universitas Brawijaya. Gathering dihadiri oleh calon anggota, Badan Pengurus Harian (BPH) dan Badan Pertimbangan (BP). Acara diadakan untuk mengenalkan organisasi Kompas OA& ES kepada calon anggota sekaligus perkenalan calon anggota itu sendiri.

Musyawarah Besar (MUBES) 2015 KOMPAS OA & ES



           Musyawarah besar (Mubes) Kompas Outdoor Activity and Environmental Studies akhirnya telah selesai digelar. Mubes yang diadakan pada Hari Sabtu-Minggu, tanggal 12-13 Desember 2015 mengkaji aturan lama, yang akan disesuaikan kembali dengan berbagai masukan dan pertimbangan dari peserta mubes. Peserta mubes meliputi seluruh anggota Kompas dari angkatan satu sampai sembilan.
            Musyawarah yang diadakan untuk mencapai mufakat tersebut menghasilkan struktur kepengurusan baru untuk tahun 2015-2016. Mulai dari pemilihan ketua umum baru, badan pertimbangan, badan pengurus harian dan divisi-divisi di dalamnya. Serah terima jabatan pun dilakukan dan berikut susunan kepengurusan KOMPAS OA&ES 2015-2016:

Sabtu, 12 Desember 2015

BAKTI SOSIAL DESA NGENEP 2015




Tanggal 21 -22 Oktober, KOMPAS OA & ES mengadakan bakti sosial di Desa Ngenep, Karangploso, malang. Waktu perjalanan dari kota Malang sekitar 30 menit mengendarai sepeda motor. Pukul 10.00 kami berangkat dari FISIP UB. Pukul 10.45 kami tiba di lokasi baksos. Setelah beristirahat sejenak, kami mulai menjalankan pekerjaan yang sudah dibagi. Pohon yang kami tanam adalah tabebuya.Mulai dari mengukur jarak pohon, melubangi, dan mengairi tanah supaya siap ditanami keesokan harinya. Jarak antar pohon adalah 10 meter dan ada 100 bibit untuk ditanam. Penanaman dilakukan di sepanjang jalan penduduk. Jalanan penduduk masih berupa jalan makadam. Pukul 3 sore, kegiatan mengukur dan melubangi tanah selesai. Setelah itu kami makan siang an beristirahat sejenak.
Kami mengundang anak-anak untuk sosialisai kepada anak-anak seusia SD di kampung tersebut. Pukul 15.30, anak-anak mulai datang dan sosialisai tentang keebersihan diri, makanan sehat dan hidup sehat.  Setelah sosialisasi, kami mengadakan game sampai pukul 17.00, tak lupa, anak-anak diberi bingkisan yang berisi biscuit,susu botol,makanan ringan, alat tulis dan beberapa buku.




Malam harinya, kami kedatangan kepala desa setempat. Beliau menceritakan kondisi desa-desanya yang masih banyak memerlukan bantuan, saluran listrik dan air.
Rumah penduduk di kampung itu masih jarang-jarang. Tidak padat dan masih banyak lahan kosong. Di sekitar rumah-rumah penduduk. Penduduk mayoritas bermatapencaharian sebagai petani. Jika musim kemarau, mereka tidak melakukan pekerjaan apapun. Jika ada, itu hanya persiapan untuk bercocok tanam.

Keesokan harinya, setelah sarapan, kami melakukan penanaman pohon pukul 09.00, dibantu orang-orang dari komunitas Danyangan, Batu, Malang. Setelah selesai penanaman, kami melanjutkan bersih-bersih sepanjang jalan penanaman. Setelah itu, kami membersihkan mushola. Selesai itu, kami makan siang dan beristirahat sebelum sosialisasi 
kepada anak-anak setempat dan pembagian bingkisan.


Selain penanaman dan sosialisai, kami juga menyumbang semen dan keramik untuk mlanjutkan pembangunan mushola.

Jumat, 11 Desember 2015

Sumatera: Akan Tertutup Dengan Asap

Bukti baru menunjukkan Bahwa lahan gambut dan perlindungan hutan merupakan kunci untuk menghentikan Kabut Asap 28 Mei, 2014 Kebakaran hutan dan lahan gambut tahunan di Indonesia sebagian besar adalah krisis buatan manusia, yang berdampak terhadap kesehatan yang utamanya terhadap Indonesia serta Asia Tenggara. Dimana perusahaan perkebunan yang masih terus beroperasi dengan kondisi hukum yang lemah penegakkannya dimana cara mereka menjalankan praktik yang tidak bertanggung jawab seperti : membuka hutan, mengeringkan lahan basah, padahal lahan gambut kaya akan karbon, dan menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran hutan, yang dikenal sebagai kabut asap. Yang tersisa di kondisi alam, kebakaran lahan gambut  sebenarnya sangat jarang terjadi, tapi dalam beberapa dasawarsa kehancuran telah membuat Indonesia menjadi wilayah sangat besar yang mudah terbakar- serta ancaman bagi kesehatan jutaan orang di Sumatera, dan di seluruh wilayah tersebut. Di Asia Tenggara, asap dari lahan gambut dan kebakaran hutan dapat dihubungkan dengan terjadinya 300.000 kematian selama bertahun-tahun ElNiño berlangsung. Tahun ini, secara luas diperkirakan akan menjadi tahun ElNiño yang ditandai dengan kondisi kekeringan yang panjang terjadi di Indonesia, kebakaran dapat melampaui dampak yang terjadi pada (kebakaran) tahun lalu. Singapura mengambil tindakan melalui usulan mengenai Lintas Batas Hukum kabut asap, tetapi tindakan yang komprehensif untuk mengatasi kebakarans ecara mendasar nampaknya belum disikapi oleh pemerintah Indonesia. Namun, Kabut Asap adalah tanda yang paling terlihat bahwa “bisnis seperti biasa” pada sektor perkebunan tidak dapat dilanjutkan. Perlindungan terhadap lahan gambut serta hutan adalah yang terbaik solusi jangka panjang yang terbaik. kita harus menghentikan kebakaran hutan dan mencegah bencana kesehatan masyarakat di masa yang akan datang. 

Ikhtisar Temuan Analisa Pemetaan yang dilakukan oleh para pakar dari Greenpeace menunjukkan bahwa luasnya titik-titik api yang terdapat di hutan terjadi pada lahan gambut yang mengalami penggundulan di Sumatera.
1) Frekuensi titik-titik api lima kali lebih tinggi (banyak) pada lahan gambut dari pada ditanah yang bermineral
2) Perlindungan terhadap Hutan Gambut secara signifikan mengurangi kemumngkinan terjadinya kebakaran. Titik-titik api yang terjadi selama 2013 diketahui 3,5 kali lebih sering terjadi pada lahan gambut yang tidak berhutan jika dibandingkan dengan lahan gambut yang masih berhutan sebagaimana yang terjadi di 2011. Pada 2011 kebanyakan titik-tik api terjadi pada lahan gambut yang berhutan dan berada di sepanjang pinggiran hutan. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tersebut mungkin sudah digunduli pada tahun 2013 ketika kebakaran terjadi; perumpamaannya adalah, hutan yang berada di sepanjang pinggiran lebih terbuka dan rentan terhadap kebakaran. Sebagai contoh hal tersebut diatas adalah dari 10.500 ha konsesi (HPH/Hak Pengelolaan Hutan) kelapa sawit PT Rokan Adi Rayadi Riau, dimana terdapat di dalamnya terdapat hutan lahan gambut dalam, serta penebangan hutan berskala besar yang terjadi antara tahun 2009 serta tahun 2013 dan kebakaran yang tidak terkendali pada tahun 2013.

            Analisis pemetaan berdasarkan kenampakan citra Landsat menunjukkan pada akhir Desember 2013 hanya tersisa 419 ha hutan saja. Penyelidikan lapangan Greenpeace pada Juni 2013 mendokumentasikan dimana ekskavator tidak berhenti membangun saluran drainase melalui lahan gambut yang berada dalam konsesinya bahkan pada saat api masih membara di sekitarnya.
3) Riau adalah daerah Titik Nol untuk kabut asap. Riau menyumbang hanya 5% dari luas
wilayah daratan Indonesia, namun 40% dari semua titik apinya (di Riau) hampir tiga perempat dari seluruh titik api yang terjadi di atas lahan gambut. Riau juga merupakan “rumah” bagi porsi sektor perkebunan Indonesia yang signifikan, Riau adalah provinsi dengan produksi minyak sawit terbesar di Indonesia. Ekspansi yang sedang berjalan dari perkebunan kelapa sawit menyebabkan emisi karbon serta pengrusakan lingkungan yang sangat besar. Sebanyak 40% dari minyak kelapa sawit Indonesia yang diperdagangkan melalui Pelabuhan Dumai di Riau.
4) Kebakaran hutan pada lahan ilindungi secara hokum: Pada Mei 2011, Indonesia memperkenalkan masa dua tahun pada izin konsesi baru di hutan primer dan lahan gambut. Sementara moratorium ini adalahl angkah awal, namun hal itu tidak melindungi seluruh hutan ataupun lahan gambut sekalipun. Analisa Greenpeace menunjukkan bahwa pada Februari2014, lebih dari 30% titik-titik api ternyata terjadi pada lahan yang sebenarnya dimaksud sebagai lahan yang dilindungi oleh moratorium. Dari seluruh titik dapipada lahan moratorium, hampir 80% terjadi pada daerah lahan gambut, kendati tujuan yang ditetapkan dalam moratorium adalah untuk menghentikan sementara waktu pembukaan lahan baru  di wilayah ini

Apa Itu Lahan Gambut? Dan Mengapa Harus Dilindungi?
Lahan Gambut tropis sebagian besar terdiri atas sebagia nvegetasi mati yang membusuk, kemudian terakumulasi selama ribuan tahun dan umumnya jenuh atau dekat dengan kejenuhan air. Ketika dibiarkan secara alami, maka hampir tidak mungkin untuk terbakar. Lahan gambut adalah sebuah penyimpanan (gudang/wadah) karbon dalam jumlah besar, menguncinya bawah tanah dan mencegahnya dari terlepas ke atmosfer. 

Apa Yang Menyebabkan Kebakaran Pada Lahan Gambut dan Kabut Asap?
Hutan hujan tropis, termasuk yang berada diatas lahan gambut, biasanya tidak terbakar. Namun, pembukaan hutan dan kekeringan menambah kerentanan hutan terhadap kebakaran, dan pembakaran seringkali digunakan untuk mengosongkan daerah tersebut. Sementara hutan tropis dan lahan gambut yang terdegradasi dapat melepaskan simpanan karbon yang tersimpan selama beberapa dekade, kemudian terbakar melepaskan karbon ke atmosfer dengan cepat, serta merusak kemampuan ekosistem untuk pulih kembali dan mulai menyerap lebih banyak karbon  lagi. Sekali dikeringkan, lahan gambut yang mongering dapat membara perlahan-lahan sementara vegetasi yang (terutama dihutan-hutanterdegradasi) menangkap sinar dengan mudah dan kebakaran dapat menyebar dengan cepat. Kebakaran dapat tidak disengaja (misalnya disebabkan oleh petir atau kecerobohan manusia), atau mereka mungkin mulai dengan sengaja untuk membuka lahan untuk budidaya atau untuk meningkatkan kesuburan tanah. Entah kebetulan atau disengaja, kebakaran di lahan gambut dapat dengan mudah membakar di luar kendali, khususnya dalam periode  tahun kemarau. Karena kebakaran menyebar jauh ke dalam tanah kebakaran seperti itu akan sulit untuk dipadamkan, terkadang terbakar selama berbulan-bulan. Kebakaran yang mereka hasilkan adalah emisi yang cepat dan besar-besaran dari gas rumah kaca maupun kabut asap. Pengeringan lahan gambut dapat mempengaruhi seluruh, bukan hanya wilayah yang ditargetkan.

Greenpeace menyerukan agar semua lahan gambut harus dilindungi, tidak peduli (seberapa) dalam atau di manapun letaknya.  Penanaman di atas lahan gambut ebih dari tiga meter dalamnya merupakan pelanggaran hukum di Indonesia, walaupun hokum banyak dilanggar. Lebih lanjut melindungi lahan gambut dalam saja tidaklah cukup; pengembangan perkebunan di sekitar tepi kubah lahan gambut, bahkandi daerah di mana kedalaman lahan gambut mungkin satu meter atau kurang, mengancam sistem secara keseluruhan. Drainase, misalnya untuk perkebunan kelapa sawit, menguras air dari kawasan hutan sebelah,dan permukaan air umumnya mulai menurun.  

Analisis :
            Kebakaran hutan, saat ini sedang banyak terjadi di Indonesia. Banyak anggapan yang muncul dari masyarakat maupun dari para ahli, sebagian mengatakan hal ini terjadi karena murni adanya bencana alam sebagian lagi ada yang mengatakan hal ini terjadi karena ulah manusia-manusia yang memilki kepentingan. Tidak hanya banyak anggapan yang muncul, adanya bencana ini juga mendapat banyk simpati dari masyarakat. Baik yang berupa tulisan maupun berupa tindakan untuk membantu para korban bencana kebakaran ini.

            Bencana kebakaran ini, sebenarnya tidak hanya terjadi di satu daerah saja, tetapi banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti Kalimantan dan Sumatera. Dampaknya pun sudah sampai dirasakan oleh mereka-mereka yang tinggal di Jakarta. Adanya kebakaran ini tentu saja memilki banyak dampak negative seperti rusaknya tumbuh-tumbuhan disana serta terancamnya hewan-hewan yang tinggal di Hutan. Tidak hanya berdampak pada tumbuhan dan hewan saja, bencana ini juga sangat mengancam kesehatan masyarakat yang tinggal disekitarnya.

Kebakaran hutan berskala besar cukup sulit untuk dipadamkan. Kadang-kadang membutuhkan waktu hingga bermingu-minggu agar semua titik api bisa padam. Pada kondisi tertentu, seperti tanah gambut, kebakaran masih terus berlangsung di dalam tanah meski api dipermukaan telah padam berhasil dipadamkan. Sehingga tanah tetap mengeluarkan asap pekat dan sewaktu-waktu api bisa meletup kembali ke permukaan. Kebakaran hutan menjadi penyumbang terbesar laju deforestasi. Bahkan menurut organisasi lingkungan, World Wild Fund, deforestasi akibat kebakaran hutan lebih besar dibanding konversi lahan untuk pertanian dan illegal logging.

Kebakaran hutan, bisa disebabkan oleh dua hal yaitu secara alamiah dan di sebabkan oleh perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab dan memilki kepentingan. Kebakaran hutan yang terjadi secara alami biasanya disebabkan oleh petir, lelehan lahar gunung api, dan gesekan antara pepohonan. Kekeringan yang berkepanjangan juga bias memicu terjadinya kebakaran.

Dalam Jurnal yang di tulis oleh Cecep Risnandar Di Indonesia, 99% kejadian kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia baik sengaja maupun tidak sengaja. Hanya 1% diantaranya yang terjadi secara alamiah. Sejak era tahun 1980-an pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman  Industri diduga menjadi biang kerok terjadinya kebakaran hutan secara besar-besaran.
 Maraknya pembakaran hutan yang dikabarkandilakukan dengan sengaja ii, tentunya tidak terlepas dari kurang tegasnya peraturan yang mengatur mengenai hal ini. Lingkungan, sepertinya kurang begitu bdiperdulikan oleh pemerintah dan pemilik kepentingan. Padahal, lingkungan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup. Di Kalimantan saja, menurut Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah No.15 tahun 2010 di Kalimantan Tengah, untuk membakar hutan seluas maksimal satu hektar orang hanya perlu izin ketua RT. Demikian laporan detik.com. Sementara untuk membuka lahan dengan cara membakar hutan seluas satu sampai dua hektar, hanya cukup izin dari lurah atau kepala desa.

            Peraturan yang tidak tegas seperti ini, sangat berimplikasi untuk merusak lingkungan.        Pembakaran hutan yang “sengaja” dilakukan dengan alasan apapun dapat berdampak buruk pada lingkungan. Apalagi pembakaran hutan yang dilakukan ini biasanya hanya akan menguntungkan beberapa pihak saja dan merugikan lebih banyak pihak.
           
Untuk itu, sangat diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk menjaga lingkungannya. Jika hanya mengandalkan orang-orang lain seperti perhutani atau lembaga maupun organisasi yang bertugas menjaga lingkungan namun masyarakat masih juga belum sadar untuk menjaga lingkungan hal ini akan tetap sia-sia.Selain itu, perlu juga dibuat peraturan hukum yang jelas serta mengikat tentang penjagaan lingkungan. Dan perlu diberlakukan sanksi yang tegas untuk mencegah terjadinya pelanggaran hokum yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Kebakaran hutan terjadi juga dapat disebabkan karena musim pancaroba dimana setiap lima tahun sekali Indonesia akan terkena dampak el-nono yang panjang, sehimgga dampak dari el-nino ini juga dapat menjadi salah satu penyebab dari kebakaran hutan ditambah dengan angin yang besar ssehingga membuat pohon yang terdapat dihutan saling bergeesek dan menimbulkan percikan api.

Sumber :
Risnandar, Cecep. 2015. Kebakaran hutan. https://jurnalbumi.com/kebakaran-hutan/

Greenpece Indonesia. http://www.greenpeace.org/seasia/id/PageFiles/616273/Kabut%20Asap%20Sumatera.pdf


By: Devi F.

PENANAMAN BAKAU PANTAI CLUNGUP 2015

Kompas OA-ES mengadakan sebuah program kegiatan tanam bakau di salah satu tempat konservasi bakau, tepatnya di pantai clungup malang selatan. Tema yang digunakan dalam kegiatan kali ini adalah  Believe with your heart. Proof with your act. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober sampai 1 November 2015. Pantai Clungup terletak di desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, jawa Timur. Pantai ini berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia. Akses menuju pantai Clungup (tempat konservasi bakau) dari kota Malang (FISIP UB) menggunakan transportasi umum angkutan kota sejumlah 2 unit (AL) mengikuti arah Turen dan Sendang Biru. Ada batas wilayah dimana kendaraan roda empat dari pengunjung tidak bisa memasuki wilayah registrasi masuk pantai Clungup. Kendaraan pengunjung harus diparkir sekitar 1 km dari tempat registrasi masuk pantai Clungup. Di pantai clungup, ada juga deretan pantai lain yaitu Gatra, Tiga Warna, dan Asmoro. Area konservasi yang dijadikan tempat pelaksanaan proker tanam bakau Kompas OA ES kali ini adalah pantai Asmoro dan Clungup. Dengan jumlah bibit bakau yang akan ditanam sebanyak 200 bibit dan di bagi 100 bibit di pantai Asmoro. 100 bibit di pantai Clungup.



Program ini di dampingi oleh anggota dari Pokmaswas Bhakti Alam Sendang Biru. Lahan konservasi yang dikelola oleh POKMASWAS adalah seluas 210 hektare. Dan sudah berhasil dikelola seluas 81 hektar yang di khususkan untuk konservasi bakau. Dalam proker tanam bakau Kompas OA ES kali ini memilih jenis bakau mentigi yang memiliki nama latin Ceriops tagal. Deskripsi dari bakau jenis mentigi : Pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. Kulit kayu berwarna abu-abu kadang juga coklat, halus dan pangkalnya menggelembung. Pohon bakau ini seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. Ekologi dari bakau mentigi yaitu membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang dan surut atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengerinbgan baik. Juga terdapat di sepanjang tambak. Menyukai substrat tanah liat, dan kemungkinan berdampingan dengan C.decandra.

Manfaat bakau bagi kehidupan manusia sangatlah penting. Begitu pula manfaatnya bagi keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Diantaranya :
1.  Melindungi pantai dari erosi dan abrasi
2. Melindungi pemukiman penduduk dari terpaan badai dan angin laut secara langsung
3.  Mencegah intrusi air laut
4.Tempat hidup dan berkembang biak berbagai satwa liat seperti ikan, udang, keppiting, burung, dll
5.Menghasilkan bahan alami yang bernilai ekonomis seperti kayu untuk bahan bangunan, bahan pembuatan kapal, dan kayu bakar
6.    Memiliki potensi edukasi dan pariwisata
7.    Mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan CO2 dari udara

baca juga di GROW UP WITH MANGROVE


By: Syaiful A.

Pendakian gunung Welirang via jurang kwali-Batu


Jalur pendakian dari arah Batu, yang terletak di sebelah barat Gunung Welirang, juga merupakan jalur yang menarik dan menyenangkan. Kota Batu, keadaannya tidak berbeda jauh dengan Tretes, merupakan kota wisata memiliki panorma yang menarik, dengan berbagai fasilitasnya dan treknya selama perjalanan melewati hutan dan sejuk sekali udaranya. Batu, disebut juga Kota Apel, dan mendapat julukan Swiss-nya Jawa, terletak dilembah Gunung Panderman dan lereng Gunung Arjuno, memiliki kawasan wisata dengan sumber air hangat di Songgoriti. Untuk menuju Batu dari arah Kediri atau Malang kita dapat naik bis/colt, selanjutnya dilanjutkan dengan minibus dari Batu menuju Desa Sumber Brantas lewat Selecta.

Kita bisa berhenti di Selecta, yang juga merupakan kawasan wisata yang ternama, terletak pada ketinggian 1.200 m.dpl, hawanya sejuk dan tersedia sarana wisata yang menyenangkan, kolam renang dan taman bunga, juga pasar buah dan sayur segar. Di Selecta, banyak tersedia hotel maupun losmen dimana kita dapat bermalam. Fasilitas telpun terakhir ada di Selecta ini.
Di Desa Sumber Brantas (1.600 mdpl) terdapat mata air yang merupakan sumber dari Sungai Brantas yang mengalir ratusan kilometer, yang merupakan darah bagi lahan pertanian di Jawa Timur. Di mata air ini kita harus menyiapkan air secukupnya untuk perjalanan ke puncak dan kembalinya. Dari Sumber Brantas, mengikuti jalan aspal kearah Pacet -Mojokerto sejauh 8 km, kita akan sampai di Cangar yang merupakan kawasan Taman Hutan Rakyat Suryo yang sedang dikembangkan fasilitasnya, untuk menikmati mandi air panas alami dari kaki Gunung Welirang.

Di Desa Sumber Brantas kendaraan umum biasanya menurunkan kita di Pos KSDA, tetapi kita bisa minta turun (dengan perjanjian) di ujung desa. Sebelum pendakian, kita harus mendaftar kepada Petugas KSDA. Dari ujung desa, kita memulai pendakian selama 2 jam, dengan melewati jalan berbatu yang menanjak dan ladang sayuran ke arah Timur Laut, sampai ke tepi Hutan Lali Jiwo sebelah barat. Dalam perjalanan ini, samar-samar akan terlihat puncak Arjuno. Untuk menyingkat waktu, kita bisa juga menyewa Jeep di desa Sumber Brantas ini, untuk mengantarkan kita sampai akhir kebun sayur di tepi hutan.

Setelah pendakian 4 jam lagi melintasi hutan tropika yang lebat Lali Jiwo, kita akan sampai di punggungan gunung yang menghubungkan puncak Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, tepatnya sebelah Tenggara Gunung Kembar I. Disini terdapat persimpangan, kearah kiri untuk menuju puncak Gunung Welirang selama 2-3 jam dan ke arah kanan menuju Gunung Arjuno selama 4 - 5 jam. Sebelum pertigaan kita membangun camp dan paginya lanjut berjalan sekitar jam 10.00 wib dan sampek pos terakir untuk membangun tenda yaitu di deket puncak, detailnya di depan gua yang di dekat puncak welirang, kita sampai sekitar jam 16.00. besoknya kita jalan ke puncak pagi jam 08.00 perjalanan dari gua kepuncak hanya 15-20 menit saja. Dan siangnya jam 13.00 kita sudah mempersiapkan untuk turun kembali ke pos ksda dimana kita udah janjian sama sopir truknya.

Perjalanan mendekati Puncak Gunung Welirang dilereng sebelah barat, kita akan dapat menyaksikan padang Bunga Edelweis dan Mentigi yang berdaun kemerah-merahan, pemandangan yang menarik in tak akan dijumpai di jalur lain. Di sepanjang perjalanan kita akan sering menjumpai Rusa, Kijang, Tupai Terbang , Lutung juga Burung-burung yang terlihat jinak.
Di Hutan Lali Jiwo (Lali=Lupa, Jiwo=Jiwa/Pikiran), kita harus hati-hati karena mudah tersesat, dan ada pantangan bahwa kita tidak boleh membicarakan sesuatu yang tidak sopan atau bersikap sombong. Kelebihan lewat jalur ini adalah dari udaranya sejuk dan lebih singkat untuk perjalanan menuju puncak, tetapi kekurangannya yaitu tidak ada air sama sekali


Manajemen Perjalanan Gunung Buthak


            Gunung Buthak merupakan gunung yang berada di daerah pegunungan Malang Jawa Timur. Lebih tepatnya berada di daerah pegunungan putri tidur dekat dengan gunung Panderman. Gunung Buthak memiliki ketinggian 2838 mdpl, salah satu gunung favorit para pendaki untuk berlatih dan menjaga kekuatan fisik mereka. Terdapat 2 jalur pendakian menuju gunung Buthak, yang pertama melalui jalur via gunung Panderman dan via desa Perinci kecamatan Dau Malang. Pada umumnya para pendaki memilih jalur pendakian via gunung Panderman, karena untuk melewati desa Perinci tidak terdapat pos perijinan dan lahan parkir bagi para pendaki yang berasal dari luar kota.

            Pada kesempatan ini tim dari KOMPAS OA & ES melakukan perjalanan melalui desa Perinci, dikarenakan terdapat kerabat dekat dari tim KOMPAS OA & ES yang bertempat tinggal di desa Perinci. Perjalanan pendakian gunung Buthak dimulai pada tanggal 8 pada pukul 06.00 WIB dari basecamp KOMPAS OA & ES menuju pos 1. Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 memakan estimasi waktu kurang lebih sekitar 1 jam. Perjalanan ini tidak lah terlalu sulit, untuk menuju pos astu kita disuguhkan pemandangan yang luas melihat kota Malang dari atas, kemudian melewati perkebunan penduduk sekitar meliputi kebun cabai, tomat, dan paprika. Jalanan masih landau berupa tanah dan masih terdapat parit yang dialiri air. Sampai di pos 1 kita dapat menemukan bunga kecubung  dan tanaman-tanaman lainnya.

            Perjalanan dimulai kembali menuju pos 2, untuk mencapai pos 2 estimasi waktu yang dibutuhkan kurang lebih 2 jam perjalanan. Perjalanan berupa track menanjak, terjal, dan kadang jalan menyempit karena tumbuhan yang rimbun. Track yang menanjak dan curam untuk menuju pos 2 akan sangat menguras tenaga para pendaki, namun masih bisa untuk istirahat dalam perjalanan ini karena vegetasi menuju pos 2 masih baik berupa hutan rindang dan ditemani hewan-hewan unik berwarna-warni seperti semut, lebah dan juga laba-laba. Setelah menguras tenaga dalam perjalanan untuk sampai pos 2 maka kita disuguhkan perjalanan yang santai dan landau untuk menuju pos 3. Untuk menuju pos 3 kita memakan estimasi waktu kurang lebih sekitar 1 jam. 1 jam yang dapat mengembalikan mood kita setelah dihajar habis dalam perjalanan ke pos 2 hutan yang rindang dan suasana yan sejuk mulai dapat dirasakan. Sesampai di pos 3 kita bisa beristirahat sejenak untuk melanjutkan ke pos 4.

            Kita mulai kembali perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 yang memakan waktu kurang lebih 2 jam. Perjalanan yang kembali menguras tenaga dimulai, dari terjalnya medan, kemudian tanjakan demi tanjakan untuk menuju pos 4. Pos 4 merupakan jalur pertemuan antara jalur pendakian gunung Buthak via Panderman dan via desa Perinci, disini lahan cukup luas dan landai dan bisa dijadikan tempat istirahat yang menyenangkan. Lanjut menuju pos 5 yaitu camp ground. Perjalan tidak terlalu menguras tenaga, landai dan hanya sedikit tanjakan yang tidak terlalu sulit. Untuk menuju pos 5 estimasi waktu kurang lebih 2 jam. Sesampainya di pos 5 terpampang jelas sabana luas tanpa ada yang menghalangi dan di sini tim KOMPAS OA & ES berkemah menghabiskan sisa malam.

            Esok harinya seluruh tim KOMPAS OA & ES menuju puncak gunung Buthak dengan estimasi waktu sekitar 1 jam dengan perjalanan yang menanjak dan terjal. Dan sesampainya disana kita akan disuguhkan kenindahan pemandangan luas yang tidak bisa kita temui di sembarang tempat. Dari puncak gunung Buthak kita dapat melihat indahnya gunung Mahameru, Panderman, Arjuna, Welirang, Kelud, bahkan gunung Selamet dan Merbabu pun dapat kita lihat. Terbayar sudah kelelahan-kelelahan yang kita jalani selama perjalanan, setelah selesai tim KOMPAS OA & ES langsung kembali ke kemah dan bersiap-siap untuk turun dan perjalanan dari pengalaman luar biasa tertutup manis dalam ingatan. Sekian.