Kepengurusan
baru KOMPAS Outdoor Activity and Environmental Studies periode 2015/2016
mengadakan Gathering pertama dengan calon angkatan ke – 10 yang lolos screening pada tanggal 19 Desember 2015,
pukul 09.00-12.00 di gedung prof. Yogi Sugito, FISIP, Universitas Brawijaya. Gathering dihadiri oleh calon anggota,
Badan Pengurus Harian (BPH) dan Badan Pertimbangan (BP). Acara diadakan untuk
mengenalkan organisasi Kompas OA& ES kepada calon anggota sekaligus
perkenalan calon anggota itu sendiri.
Minggu, 20 Desember 2015
Musyawarah Besar (MUBES) 2015 KOMPAS OA & ES
Musyawarah besar
(Mubes) Kompas Outdoor Activity and Environmental Studies akhirnya telah
selesai digelar. Mubes yang diadakan pada Hari Sabtu-Minggu, tanggal 12-13
Desember 2015 mengkaji aturan lama, yang akan disesuaikan kembali dengan
berbagai masukan dan pertimbangan dari peserta mubes. Peserta mubes meliputi
seluruh anggota Kompas dari angkatan satu sampai sembilan.
Musyawarah yang diadakan untuk
mencapai mufakat tersebut menghasilkan struktur kepengurusan baru untuk tahun
2015-2016. Mulai dari pemilihan ketua umum baru, badan pertimbangan, badan
pengurus harian dan divisi-divisi di dalamnya. Serah terima jabatan pun
dilakukan dan berikut susunan kepengurusan KOMPAS OA&ES 2015-2016:
Sabtu, 12 Desember 2015
BAKTI SOSIAL DESA NGENEP 2015
Tanggal 21 -22 Oktober,
KOMPAS OA & ES mengadakan bakti sosial di Desa Ngenep, Karangploso, malang.
Waktu perjalanan dari kota Malang sekitar 30 menit mengendarai sepeda motor.
Pukul 10.00 kami berangkat dari FISIP UB. Pukul 10.45 kami tiba di lokasi
baksos. Setelah beristirahat sejenak, kami mulai menjalankan pekerjaan yang
sudah dibagi. Pohon yang kami tanam adalah tabebuya.Mulai dari mengukur jarak
pohon, melubangi, dan mengairi tanah supaya siap ditanami keesokan harinya.
Jarak antar pohon adalah 10 meter dan ada 100 bibit untuk ditanam. Penanaman
dilakukan di sepanjang jalan penduduk. Jalanan penduduk masih berupa jalan
makadam. Pukul 3 sore, kegiatan mengukur dan melubangi tanah selesai. Setelah
itu kami makan siang an beristirahat sejenak.
Kami mengundang anak-anak
untuk sosialisai kepada anak-anak seusia SD di kampung tersebut. Pukul 15.30,
anak-anak mulai datang dan sosialisai tentang keebersihan diri, makanan sehat
dan hidup sehat. Setelah sosialisasi,
kami mengadakan game sampai pukul 17.00, tak lupa, anak-anak diberi bingkisan
yang berisi biscuit,susu botol,makanan ringan, alat tulis dan beberapa buku.
Malam harinya, kami
kedatangan kepala desa setempat. Beliau menceritakan kondisi desa-desanya yang
masih banyak memerlukan bantuan, saluran listrik dan air.
Rumah penduduk di kampung
itu masih jarang-jarang. Tidak padat dan masih banyak lahan kosong. Di sekitar
rumah-rumah penduduk. Penduduk mayoritas bermatapencaharian sebagai petani.
Jika musim kemarau, mereka tidak melakukan pekerjaan apapun. Jika ada, itu
hanya persiapan untuk bercocok tanam.
Keesokan harinya, setelah
sarapan, kami melakukan penanaman pohon pukul 09.00, dibantu orang-orang dari
komunitas Danyangan, Batu, Malang. Setelah selesai penanaman, kami melanjutkan
bersih-bersih sepanjang jalan penanaman. Setelah itu, kami membersihkan
mushola. Selesai itu, kami makan siang dan beristirahat sebelum sosialisasi
kepada anak-anak setempat dan pembagian bingkisan.
Selain penanaman dan
sosialisai, kami juga menyumbang semen dan keramik untuk mlanjutkan pembangunan
mushola.
Jumat, 11 Desember 2015
Sumatera: Akan Tertutup Dengan Asap
Bukti baru menunjukkan Bahwa lahan gambut dan perlindungan
hutan merupakan kunci untuk menghentikan Kabut Asap 28 Mei, 2014 Kebakaran
hutan dan lahan gambut tahunan di Indonesia sebagian besar adalah krisis buatan
manusia, yang berdampak terhadap kesehatan yang utamanya terhadap Indonesia
serta Asia Tenggara. Dimana perusahaan perkebunan yang masih terus beroperasi
dengan kondisi hukum yang lemah penegakkannya dimana cara mereka menjalankan praktik
yang tidak bertanggung jawab seperti : membuka hutan, mengeringkan lahan basah,
padahal lahan gambut kaya akan karbon, dan menjadi penyebab utama terjadinya
kebakaran hutan, yang dikenal sebagai kabut asap. Yang tersisa di kondisi alam,
kebakaran lahan gambut sebenarnya sangat
jarang terjadi, tapi dalam beberapa dasawarsa kehancuran telah membuat Indonesia
menjadi wilayah sangat besar yang mudah terbakar- serta ancaman bagi kesehatan
jutaan orang di Sumatera, dan di seluruh wilayah tersebut. Di Asia Tenggara,
asap dari lahan gambut dan kebakaran hutan dapat dihubungkan dengan terjadinya 300.000
kematian selama bertahun-tahun ElNiño berlangsung. Tahun ini, secara luas
diperkirakan akan menjadi tahun ElNiño yang ditandai dengan kondisi kekeringan yang
panjang terjadi di Indonesia, kebakaran dapat melampaui dampak yang terjadi
pada (kebakaran) tahun lalu. Singapura mengambil tindakan melalui usulan
mengenai Lintas Batas Hukum kabut asap, tetapi tindakan yang komprehensif untuk
mengatasi kebakarans ecara mendasar nampaknya belum disikapi oleh pemerintah
Indonesia. Namun, Kabut Asap adalah tanda yang paling terlihat bahwa “bisnis seperti
biasa” pada sektor perkebunan tidak dapat dilanjutkan. Perlindungan terhadap
lahan gambut serta hutan adalah yang terbaik solusi jangka panjang yang
terbaik. kita harus menghentikan kebakaran hutan dan mencegah bencana kesehatan
masyarakat di masa yang akan datang.
Ikhtisar Temuan Analisa Pemetaan yang
dilakukan oleh para pakar dari Greenpeace menunjukkan bahwa luasnya titik-titik
api yang terdapat di hutan terjadi pada lahan gambut yang mengalami
penggundulan di Sumatera.
1)
Frekuensi titik-titik api lima kali lebih tinggi (banyak) pada lahan gambut dari
pada ditanah yang bermineral
2)
Perlindungan terhadap Hutan Gambut secara signifikan mengurangi kemumngkinan
terjadinya kebakaran. Titik-titik api yang terjadi selama 2013 diketahui 3,5
kali lebih sering terjadi pada lahan gambut yang tidak berhutan jika dibandingkan
dengan lahan gambut yang masih berhutan sebagaimana yang terjadi di 2011. Pada
2011 kebanyakan titik-tik api terjadi pada lahan gambut yang berhutan dan
berada di sepanjang pinggiran hutan. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah-wilayah
tersebut mungkin sudah digunduli pada tahun 2013 ketika kebakaran terjadi; perumpamaannya
adalah, hutan yang berada di sepanjang pinggiran lebih terbuka dan rentan
terhadap kebakaran. Sebagai contoh hal tersebut diatas adalah dari 10.500 ha konsesi
(HPH/Hak Pengelolaan Hutan) kelapa sawit PT Rokan Adi Rayadi Riau, dimana
terdapat di dalamnya terdapat hutan lahan gambut dalam, serta penebangan hutan
berskala besar yang terjadi antara tahun 2009 serta tahun 2013 dan kebakaran yang
tidak terkendali pada tahun 2013.
Analisis pemetaan berdasarkan kenampakan
citra Landsat menunjukkan pada akhir Desember 2013 hanya tersisa 419 ha hutan
saja. Penyelidikan lapangan Greenpeace pada Juni 2013 mendokumentasikan dimana ekskavator
tidak berhenti membangun saluran drainase melalui lahan gambut yang berada dalam
konsesinya bahkan pada saat api masih membara di sekitarnya.
3)
Riau adalah daerah Titik Nol untuk kabut asap. Riau menyumbang hanya 5% dari luas
wilayah
daratan Indonesia, namun 40% dari semua titik apinya (di Riau) hampir tiga
perempat dari seluruh titik api yang terjadi di atas lahan gambut. Riau juga
merupakan “rumah” bagi porsi sektor perkebunan Indonesia yang signifikan, Riau
adalah provinsi dengan produksi minyak sawit terbesar di Indonesia. Ekspansi
yang sedang berjalan dari perkebunan kelapa sawit menyebabkan emisi karbon serta
pengrusakan lingkungan yang sangat besar. Sebanyak 40% dari minyak kelapa sawit
Indonesia yang diperdagangkan melalui Pelabuhan Dumai di Riau.
4)
Kebakaran hutan pada lahan ilindungi secara hokum: Pada Mei 2011, Indonesia
memperkenalkan masa dua tahun pada izin konsesi baru di hutan primer dan lahan gambut.
Sementara moratorium ini adalahl angkah awal, namun hal itu tidak melindungi
seluruh hutan ataupun lahan gambut sekalipun. Analisa Greenpeace menunjukkan
bahwa pada Februari2014, lebih dari 30% titik-titik api ternyata terjadi pada
lahan yang sebenarnya dimaksud sebagai lahan yang dilindungi oleh moratorium.
Dari seluruh titik dapipada lahan moratorium, hampir 80% terjadi pada daerah lahan
gambut, kendati tujuan yang ditetapkan dalam moratorium adalah untuk menghentikan
sementara waktu pembukaan lahan baru di
wilayah ini
Apa Itu Lahan Gambut? Dan Mengapa
Harus Dilindungi?
Lahan Gambut tropis sebagian besar terdiri atas sebagia nvegetasi
mati yang membusuk, kemudian terakumulasi selama ribuan tahun dan umumnya jenuh
atau dekat dengan kejenuhan air. Ketika dibiarkan secara alami, maka hampir
tidak mungkin untuk terbakar. Lahan gambut adalah sebuah penyimpanan (gudang/wadah)
karbon dalam jumlah besar, menguncinya bawah tanah dan mencegahnya dari terlepas
ke atmosfer.
Apa Yang Menyebabkan Kebakaran Pada
Lahan Gambut dan Kabut Asap?
Hutan hujan tropis, termasuk yang berada diatas lahan
gambut, biasanya tidak terbakar. Namun, pembukaan hutan dan kekeringan menambah
kerentanan hutan terhadap kebakaran, dan pembakaran seringkali digunakan untuk
mengosongkan daerah tersebut. Sementara hutan tropis dan lahan gambut yang terdegradasi
dapat melepaskan simpanan karbon yang tersimpan selama beberapa dekade, kemudian
terbakar melepaskan karbon ke atmosfer dengan cepat, serta merusak kemampuan ekosistem
untuk pulih kembali dan mulai menyerap lebih banyak karbon lagi. Sekali dikeringkan, lahan gambut yang mongering
dapat membara perlahan-lahan sementara vegetasi yang (terutama dihutan-hutanterdegradasi)
menangkap sinar dengan mudah dan kebakaran dapat menyebar dengan cepat. Kebakaran
dapat tidak disengaja (misalnya disebabkan oleh petir atau kecerobohan
manusia), atau mereka mungkin mulai dengan sengaja untuk membuka lahan untuk
budidaya atau untuk meningkatkan kesuburan tanah. Entah kebetulan atau disengaja,
kebakaran di lahan gambut dapat dengan mudah membakar di luar kendali,
khususnya dalam periode tahun kemarau.
Karena kebakaran menyebar jauh ke dalam tanah kebakaran seperti itu akan sulit
untuk dipadamkan, terkadang terbakar selama berbulan-bulan. Kebakaran yang
mereka hasilkan adalah emisi yang cepat dan besar-besaran dari gas rumah kaca
maupun kabut asap. Pengeringan lahan gambut dapat mempengaruhi seluruh, bukan
hanya wilayah yang ditargetkan.
Greenpeace menyerukan agar semua lahan gambut harus
dilindungi, tidak peduli (seberapa) dalam atau di manapun letaknya.
Penanaman di atas lahan gambut ebih dari tiga meter dalamnya merupakan
pelanggaran hukum di Indonesia, walaupun hokum banyak dilanggar. Lebih lanjut melindungi
lahan gambut dalam saja tidaklah cukup; pengembangan perkebunan di sekitar tepi
kubah lahan gambut, bahkandi daerah di mana kedalaman lahan gambut mungkin satu
meter atau kurang, mengancam sistem secara keseluruhan. Drainase, misalnya untuk
perkebunan kelapa sawit, menguras air dari kawasan hutan sebelah,dan permukaan
air umumnya mulai menurun.
Analisis
:
Kebakaran hutan, saat ini sedang
banyak terjadi di Indonesia. Banyak anggapan yang muncul dari masyarakat maupun
dari para ahli, sebagian mengatakan hal ini terjadi karena murni adanya bencana
alam sebagian lagi ada yang mengatakan hal ini terjadi karena ulah
manusia-manusia yang memilki kepentingan. Tidak hanya banyak anggapan yang muncul,
adanya bencana ini juga mendapat banyk simpati dari masyarakat. Baik yang
berupa tulisan maupun berupa tindakan untuk membantu para korban bencana
kebakaran ini.
Bencana kebakaran ini, sebenarnya
tidak hanya terjadi di satu daerah saja, tetapi banyak terjadi di beberapa
daerah di Indonesia seperti Kalimantan dan Sumatera. Dampaknya pun sudah sampai
dirasakan oleh mereka-mereka yang tinggal di Jakarta. Adanya kebakaran ini
tentu saja memilki banyak dampak negative seperti rusaknya tumbuh-tumbuhan disana
serta terancamnya hewan-hewan yang tinggal di Hutan. Tidak hanya berdampak pada
tumbuhan dan hewan saja, bencana ini juga sangat mengancam kesehatan masyarakat
yang tinggal disekitarnya.
Kebakaran hutan berskala besar cukup sulit
untuk dipadamkan. Kadang-kadang membutuhkan waktu hingga
bermingu-minggu agar semua titik api bisa padam. Pada kondisi tertentu,
seperti tanah gambut,
kebakaran masih terus berlangsung di dalam tanah meski api dipermukaan telah
padam berhasil dipadamkan. Sehingga tanah tetap mengeluarkan asap pekat dan
sewaktu-waktu api bisa meletup kembali ke permukaan. Kebakaran hutan menjadi
penyumbang terbesar laju deforestasi. Bahkan menurut organisasi
lingkungan, World Wild Fund, deforestasi akibat kebakaran hutan lebih
besar dibanding konversi lahan untuk pertanian dan illegal logging.
Kebakaran hutan, bisa disebabkan oleh dua hal
yaitu secara alamiah dan di sebabkan oleh perbuatan manusia yang tidak
bertanggung jawab dan memilki kepentingan. Kebakaran hutan yang terjadi secara
alami biasanya disebabkan oleh petir,
lelehan lahar gunung api, dan gesekan antara pepohonan.
Kekeringan yang berkepanjangan juga bias memicu terjadinya kebakaran.
Dalam
Jurnal yang di tulis oleh Cecep Risnandar Di Indonesia, 99% kejadian kebakaran hutan
disebabkan oleh aktivitas manusia baik sengaja maupun tidak sengaja. Hanya 1%
diantaranya yang terjadi secara alamiah. Sejak era tahun
1980-an pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan Hutan
Tanaman Industri diduga menjadi biang kerok terjadinya
kebakaran hutan secara besar-besaran.
Maraknya pembakaran hutan yang dikabarkandilakukan dengan
sengaja ii, tentunya tidak terlepas dari kurang tegasnya peraturan yang
mengatur mengenai hal ini. Lingkungan, sepertinya kurang begitu bdiperdulikan
oleh pemerintah dan pemilik kepentingan. Padahal, lingkungan sangat berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup. Di Kalimantan saja, menurut
Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah No.15 tahun 2010 di Kalimantan Tengah,
untuk membakar hutan seluas maksimal satu hektar orang hanya perlu izin ketua
RT. Demikian laporan detik.com. Sementara untuk membuka lahan dengan cara
membakar hutan seluas satu sampai dua hektar, hanya cukup izin dari lurah atau
kepala desa.
Peraturan yang tidak tegas seperti
ini, sangat berimplikasi untuk merusak lingkungan. Pembakaran hutan yang “sengaja” dilakukan dengan alasan
apapun dapat berdampak buruk pada lingkungan. Apalagi pembakaran hutan yang
dilakukan ini biasanya hanya akan menguntungkan beberapa pihak saja dan
merugikan lebih banyak pihak.
Untuk itu, sangat diperlukan
kesadaran dari masyarakat untuk menjaga lingkungannya. Jika hanya mengandalkan
orang-orang lain seperti perhutani atau lembaga maupun organisasi yang bertugas
menjaga lingkungan namun masyarakat masih juga belum sadar untuk menjaga
lingkungan hal ini akan tetap sia-sia.Selain itu, perlu juga dibuat peraturan
hukum yang jelas serta mengikat tentang penjagaan lingkungan. Dan perlu
diberlakukan sanksi yang tegas untuk mencegah terjadinya pelanggaran hokum yang
berdampak buruk bagi lingkungan.
Kebakaran hutan terjadi juga dapat disebabkan karena
musim pancaroba dimana setiap lima tahun sekali Indonesia akan terkena dampak
el-nono yang panjang, sehimgga dampak dari el-nino ini juga dapat menjadi salah
satu penyebab dari kebakaran hutan ditambah dengan angin yang besar ssehingga
membuat pohon yang terdapat dihutan saling bergeesek dan menimbulkan percikan
api.
Sumber
:
Greenpece Indonesia. http://www.greenpeace.org/seasia/id/PageFiles/616273/Kabut%20Asap%20Sumatera.pdf
By: Devi F.
PENANAMAN BAKAU PANTAI CLUNGUP 2015
Kompas
OA-ES mengadakan sebuah program kegiatan tanam bakau di salah satu tempat
konservasi bakau, tepatnya di pantai clungup malang selatan. Tema yang
digunakan dalam kegiatan kali ini adalah Believe with your heart. Proof with your act. Kegiatan
yang dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober sampai 1 November 2015. Pantai
Clungup terletak di desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten
Malang, jawa Timur. Pantai ini berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia. Akses
menuju pantai Clungup (tempat konservasi bakau) dari kota Malang (FISIP UB)
menggunakan transportasi umum angkutan kota sejumlah 2 unit (AL) mengikuti arah
Turen dan Sendang Biru. Ada batas wilayah dimana kendaraan roda empat dari
pengunjung tidak bisa memasuki wilayah registrasi masuk pantai Clungup.
Kendaraan pengunjung harus diparkir sekitar 1 km dari tempat registrasi masuk
pantai Clungup. Di
pantai clungup, ada juga deretan pantai lain yaitu Gatra, Tiga Warna, dan
Asmoro. Area konservasi yang dijadikan tempat pelaksanaan proker tanam bakau
Kompas OA ES kali ini adalah pantai Asmoro dan Clungup. Dengan jumlah bibit
bakau yang akan ditanam sebanyak 200 bibit dan di bagi 100 bibit di pantai
Asmoro. 100 bibit di pantai Clungup.
Program
ini di dampingi oleh anggota dari Pokmaswas Bhakti Alam Sendang Biru. Lahan
konservasi yang dikelola oleh POKMASWAS adalah seluas 210 hektare. Dan sudah
berhasil dikelola seluas 81 hektar yang di khususkan untuk konservasi bakau.
Dalam proker tanam bakau Kompas OA ES kali ini memilih jenis bakau mentigi yang
memiliki nama latin Ceriops tagal. Deskripsi
dari bakau jenis mentigi : Pohon
kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. Kulit kayu berwarna abu-abu
kadang juga coklat, halus dan pangkalnya menggelembung. Pohon bakau ini
seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. Ekologi dari bakau mentigi yaitu
membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang dan surut
atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem
pengerinbgan baik. Juga terdapat di sepanjang tambak. Menyukai substrat tanah
liat, dan kemungkinan berdampingan dengan C.decandra.
Manfaat
bakau bagi kehidupan manusia sangatlah penting. Begitu pula manfaatnya bagi
keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Diantaranya :
1. Melindungi
pantai dari erosi dan abrasi
2. Melindungi
pemukiman penduduk dari terpaan badai dan angin laut secara langsung
3. Mencegah
intrusi air laut
4.Tempat
hidup dan berkembang biak berbagai satwa liat seperti ikan, udang, keppiting,
burung, dll
5.Menghasilkan
bahan alami yang bernilai ekonomis seperti kayu untuk bahan bangunan, bahan
pembuatan kapal, dan kayu bakar
6. Memiliki
potensi edukasi dan pariwisata
7. Mitigasi
perubahan iklim melalui penyerapan CO2 dari udara
Pendakian gunung Welirang via jurang kwali-Batu
Jalur pendakian dari arah
Batu, yang terletak di sebelah barat Gunung Welirang, juga merupakan jalur yang
menarik dan menyenangkan. Kota Batu, keadaannya tidak berbeda jauh dengan
Tretes, merupakan kota wisata memiliki panorma yang menarik, dengan berbagai
fasilitasnya dan treknya
selama perjalanan melewati hutan dan sejuk sekali udaranya. Batu,
disebut juga Kota Apel, dan mendapat julukan Swiss-nya Jawa, terletak dilembah
Gunung Panderman dan lereng Gunung Arjuno, memiliki kawasan wisata dengan
sumber air hangat di Songgoriti. Untuk menuju Batu dari arah Kediri atau Malang
kita dapat naik bis/colt, selanjutnya dilanjutkan dengan minibus dari Batu
menuju Desa Sumber Brantas lewat Selecta.
Kita bisa berhenti di Selecta,
yang juga merupakan kawasan wisata yang ternama, terletak pada ketinggian 1.200
m.dpl, hawanya sejuk dan tersedia sarana wisata yang menyenangkan, kolam renang
dan taman bunga, juga pasar buah dan sayur segar. Di Selecta, banyak tersedia
hotel maupun losmen dimana kita dapat bermalam. Fasilitas telpun terakhir ada
di Selecta ini.
Di Desa Sumber Brantas (1.600 mdpl) terdapat mata air yang merupakan sumber
dari Sungai Brantas yang mengalir ratusan kilometer, yang merupakan darah bagi
lahan pertanian di Jawa Timur. Di mata air ini kita harus menyiapkan air
secukupnya untuk perjalanan ke puncak dan kembalinya. Dari Sumber Brantas,
mengikuti jalan aspal kearah Pacet -Mojokerto sejauh 8 km, kita akan sampai di
Cangar yang merupakan kawasan Taman Hutan Rakyat Suryo yang sedang
dikembangkan fasilitasnya, untuk menikmati mandi air panas alami dari kaki
Gunung Welirang.
Di Desa Sumber Brantas
kendaraan umum biasanya menurunkan kita di Pos KSDA, tetapi kita bisa minta
turun (dengan perjanjian) di ujung desa. Sebelum pendakian, kita harus
mendaftar kepada Petugas KSDA. Dari ujung desa, kita memulai pendakian selama 2
jam, dengan melewati jalan berbatu yang menanjak dan ladang sayuran ke arah
Timur Laut, sampai ke tepi Hutan Lali Jiwo sebelah barat. Dalam perjalanan ini,
samar-samar akan terlihat puncak Arjuno. Untuk menyingkat waktu, kita bisa juga
menyewa Jeep di desa Sumber Brantas ini, untuk mengantarkan kita sampai akhir
kebun sayur di tepi hutan.
Setelah pendakian 4 jam lagi melintasi hutan tropika yang lebat Lali Jiwo,
kita akan sampai di punggungan gunung yang menghubungkan puncak Gunung Welirang
dan Gunung Arjuno, tepatnya sebelah Tenggara Gunung Kembar I. Disini terdapat
persimpangan, kearah kiri untuk menuju puncak Gunung Welirang selama 2-3 jam
dan ke arah kanan menuju Gunung Arjuno selama 4 - 5 jam. Sebelum pertigaan kita membangun
camp dan paginya lanjut berjalan sekitar jam 10.00 wib dan sampek pos terakir
untuk membangun tenda yaitu di deket puncak, detailnya di depan gua yang di
dekat puncak welirang, kita sampai sekitar jam 16.00. besoknya kita jalan ke
puncak pagi jam 08.00 perjalanan dari gua kepuncak hanya 15-20 menit saja. Dan
siangnya jam 13.00 kita sudah mempersiapkan untuk turun kembali ke pos ksda
dimana kita udah janjian sama sopir truknya.
Perjalanan mendekati Puncak
Gunung Welirang dilereng sebelah barat, kita akan dapat menyaksikan padang
Bunga Edelweis dan Mentigi yang berdaun kemerah-merahan, pemandangan yang
menarik in tak akan dijumpai di jalur lain. Di sepanjang perjalanan kita akan
sering menjumpai Rusa, Kijang, Tupai Terbang , Lutung juga Burung-burung yang
terlihat jinak.
Di Hutan Lali Jiwo (Lali=Lupa, Jiwo=Jiwa/Pikiran), kita harus hati-hati
karena mudah tersesat, dan ada pantangan bahwa kita tidak boleh membicarakan
sesuatu yang tidak sopan atau bersikap sombong. Kelebihan
lewat jalur ini adalah dari udaranya sejuk dan lebih singkat untuk perjalanan
menuju puncak, tetapi kekurangannya yaitu tidak ada air sama sekali
Manajemen Perjalanan Gunung Buthak
Gunung
Buthak merupakan gunung yang berada di daerah pegunungan Malang Jawa Timur.
Lebih tepatnya berada di daerah pegunungan putri tidur dekat dengan gunung
Panderman. Gunung Buthak memiliki ketinggian 2838 mdpl, salah satu gunung
favorit para pendaki untuk berlatih dan menjaga kekuatan fisik mereka. Terdapat
2 jalur pendakian menuju gunung Buthak, yang pertama melalui jalur via gunung
Panderman dan via desa Perinci kecamatan Dau Malang. Pada umumnya para pendaki
memilih jalur pendakian via gunung Panderman, karena untuk melewati desa
Perinci tidak terdapat pos perijinan dan lahan parkir bagi para pendaki yang
berasal dari luar kota.
Pada
kesempatan ini tim dari KOMPAS OA & ES melakukan perjalanan melalui desa
Perinci, dikarenakan terdapat kerabat dekat dari tim KOMPAS OA & ES yang
bertempat tinggal di desa Perinci. Perjalanan pendakian gunung Buthak dimulai
pada tanggal 8 pada pukul 06.00 WIB dari basecamp KOMPAS OA & ES menuju pos
1. Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 memakan estimasi waktu kurang lebih
sekitar 1 jam. Perjalanan ini tidak lah terlalu sulit, untuk menuju pos astu
kita disuguhkan pemandangan yang luas melihat kota Malang dari atas, kemudian
melewati perkebunan penduduk sekitar meliputi kebun cabai, tomat, dan paprika.
Jalanan masih landau berupa tanah dan masih terdapat parit yang dialiri air.
Sampai di pos 1 kita dapat menemukan bunga kecubung dan tanaman-tanaman lainnya.
Perjalanan
dimulai kembali menuju pos 2, untuk mencapai pos 2 estimasi waktu yang
dibutuhkan kurang lebih 2 jam perjalanan. Perjalanan berupa track menanjak,
terjal, dan kadang jalan menyempit karena tumbuhan yang rimbun. Track yang
menanjak dan curam untuk menuju pos 2 akan sangat menguras tenaga para pendaki,
namun masih bisa untuk istirahat dalam perjalanan ini karena vegetasi menuju
pos 2 masih baik berupa hutan rindang dan ditemani hewan-hewan unik
berwarna-warni seperti semut, lebah dan juga laba-laba. Setelah menguras tenaga
dalam perjalanan untuk sampai pos 2 maka kita disuguhkan perjalanan yang santai
dan landau untuk menuju pos 3. Untuk menuju pos 3 kita memakan estimasi waktu
kurang lebih sekitar 1 jam. 1 jam yang dapat mengembalikan mood kita setelah
dihajar habis dalam perjalanan ke pos 2 hutan yang rindang dan suasana yan
sejuk mulai dapat dirasakan. Sesampai di pos 3 kita bisa beristirahat sejenak
untuk melanjutkan ke pos 4.
Kita
mulai kembali perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 yang memakan waktu kurang
lebih 2 jam. Perjalanan yang kembali menguras tenaga dimulai, dari terjalnya
medan, kemudian tanjakan demi tanjakan untuk menuju pos 4. Pos 4 merupakan
jalur pertemuan antara jalur pendakian gunung Buthak via Panderman dan via desa
Perinci, disini lahan cukup luas dan landai dan bisa dijadikan tempat istirahat
yang menyenangkan. Lanjut menuju pos 5 yaitu camp ground. Perjalan tidak
terlalu menguras tenaga, landai dan hanya sedikit tanjakan yang tidak terlalu
sulit. Untuk menuju pos 5 estimasi waktu kurang lebih 2 jam. Sesampainya di pos
5 terpampang jelas sabana luas tanpa ada yang menghalangi dan di sini tim
KOMPAS OA & ES berkemah menghabiskan sisa malam.
Esok
harinya seluruh tim KOMPAS OA & ES menuju puncak gunung Buthak dengan
estimasi waktu sekitar 1 jam dengan perjalanan yang menanjak dan terjal. Dan
sesampainya disana kita akan disuguhkan kenindahan pemandangan luas yang tidak
bisa kita temui di sembarang tempat. Dari puncak gunung Buthak kita dapat
melihat indahnya gunung Mahameru, Panderman, Arjuna, Welirang, Kelud, bahkan
gunung Selamet dan Merbabu pun dapat kita lihat. Terbayar sudah
kelelahan-kelelahan yang kita jalani selama perjalanan, setelah selesai tim
KOMPAS OA & ES langsung kembali ke kemah dan bersiap-siap untuk turun dan
perjalanan dari pengalaman luar biasa tertutup manis dalam ingatan. Sekian.
Rabu, 07 Januari 2015
Langganan:
Postingan (Atom)

